27,5 ares 4 Bedrooms 2 Bathrooms 0 Garages Print this page For Sale

Business Opportunity (Hotel or Restaurant) – Colonial Bank Building Ampanan 27,5 are

Ampenan, Mataram City, West Nusa Tenggara, Indonesia

Business Opportunity

Certificate : Freehold (Hak Milk)
Size : 27.50 Are (2750 m2)

Occasion “Colonial Bank Building Ampenan” used as Restaurant at marketplace Ampanan harbor, sea side.

Business opportunity for Hotel/Hostel/Restaurant ore any kind of Tourist activities.

Selling or long term rental-contract possibilities

Restaurant/Bar/Dapur/Rumah/Gudang/Brankas/Garden/ Terrace with see view,

located on 2,750 m2 property.

 

POSSIBILITIES : FOR SALE or FOR RENT
PRICE (for buy or rent) : On Application

 

PONDOK AMPENAN

Bangunan ini adalah bangunan bekas Bank Kolonial Belanda pertama di Lombok, dengan luas tanah 2750 m2,  dan luar bangunan sekitar 1305m2.

Sertifikat Hak milik.

Lokasi dalam kota tepat di pingir pantai Ampenan (Lombok),

Cocok untuk hotel atau restaurant

Bangunan tersebut terdiri dari bar, restaurant, meeting room, lobby, apartemen/rumah dengan 2 kamar tidur, taman, dan parkiran yang luas.

 

Luas tanah: 2750 m2

Luas bangunan : 1305 m2 yang terdiri dari :
– Rumah 14,4 x 15,2 = 210 m2
– Gudang 22 x 12,4 = 265 m2
– Restaurant 14 x 26 = 365 m2
– Bar 7 x 7 = 49 m2
– Dapur 4 x 4 = 16 m2
– Brankas 10 x 10 = 100 m2
– Lantai 2 brankas 10 x 10 = 100 m2
– Rumah walet dua = 200 m2

Hidupkan Pelabuhan Ampenan dengan Dermaga Pariwisata
LOMBOK – Jika Jakarta memiliki Kota Tua yang bakal diformat menjadi destinasi wisatawan andalan, kota Mataram, Lombok, NTB, juga punya Kota Tua. Namanya: Ampenan! Ada puluhan bangunan tua kuno peninggalan Belanda di tepi laut, yang konon adalah bekas pelabuhan pertama di Lombok. Ini pernah menjadi pelabuhan yang sangat sibuk di tahun 1948 – 1950-an.
“Ada investor dari Pulau Bali yang bergerak pada usaha jasa kapal pesiar yang sudah menyatakan kesiapan dan kesanggupannya membangun pelabuhan wisata. Rencananya pembangunannya dilaksanakan tahun ini,” papar Walikota Mataram Ahyar Abduh, Sabtu (11/6).
Menurut Ahyar, investor tersebut tergoda dengan Ampenan lantaran belakangan ada banyak permintaan wisman yang menggunakan kapal pesiar untuk mengunjungi sejumlah desitnasi di Lombok. Ampenan juga dinilai sebagai titik yang pas, tak butuh waktu lama untuk menyeberang dari Bali.
Sekedar gambaran, penyeberangan dari Karang Asem ke Ampenan bisa ditempuh dalam waktu hanya satu jam. Sementara bila menyeberang dari Pelabuhan Padangbae, Bali, hingga Lembar,  bisa memakan waktu sekitar lima jam. “Permintaan wisman dengan kapal pesiar untuk mampir ke Lombok, terutama asal Eropa, cukup tinggi. Karena itulah investor ini sangat berkeinginan untuk membangun pelabuhan di kawasan Ampenan. Kawasaan ini dianggap sangat ideal untuk menyandarkan kapal-kapal pesiar,” katanya.
Ia mengatakan, Ampenan dulunya memang merupakan pelabuhan sebelum dipindah ke Lembar Lombok Barat. Saat memasuki dan menginjakkan kaki di Kota tua Ampenan, serasa diajak kembali bercengkramana dan bernostalgia dengan suasana kehidupan masa lampau. Ada deretan puluhan bangunan tua bercorakkan arsitektur masa lampau yang siap menyapa. Kota tua Ampenan juga menjadi saksi bisu masa kejayaan dan keemasan Ampenan sebagai armada pelabuhan, pusat perkonomian dan perdagangan.
“Terkait dengan izin kesahbandaran dan persiapan administrasi lainnya sudah dilakukan oleh pihak investor. Bahkan saat ini mereka sedang mempersiapkan untuk pembangunan anjungan,” tambahnya.
Pemkot Mataram pun mengaku siap mendukung rencana menghidupkan pelabuhan dengan konsep wisata tadi. Penataan dan pembangunan berbagai fasilitas pendukung wisata akan segera di kawasan Ampenan.
“Kami siap membangun lahan parkir, ruang tunggu, air bersih, serta informasi dan transportasi yang bisa terkoneksi antara Ampenan-Senggigi dan objek wisata lainnya. Termasuk untuk penataan pedagang kaki lima (PKL). Kami akan tata penjualan kuliner yang lebih variatif sehingga wisatawan memiliki banyak menu pilihan kuliner khas daerah ini. Untuk anggaran penataan ini, saya sudah meminta Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) mengalokasikan anggaran dalam APBD perubahan tahun ini,” ujarnya.
Menpar Arief Yahya menyambut baik, rencana menghidupkan pelabuhan Ampenan dengan sentuhan pariwisata itu. Dia sekaligus mengingatkan soal amenitas pusat cafe dan restoran seperti Bukit Bintang Kuala Lumpur, Malaysia. Benchmark dari situ untuk mengambil market gaya hidup Timur Tengah, yang cafenya buka malam sampai pagi. “Ada prlabuhan, dilengkapi dengan amenitas itu, maka Lombok akan lebih hidup,” ungkap Menteri Pariwisata, Arief Yahya. (*)

 

 

Property Map